• Uncategorized 26.10.2011
    1. a. Pendahuluan

    Permasalahan mengenai aborsi sampai kini masih sering mencuat. Seiring dengan maraknya pergaulan bebas, aborsi semakin semarak pula. Apa sih sebenarnya aborsi itu? Aborsi adalah penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam rahim (uterus). Secara umum, aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik disengaja maupun tidak. Ada dua macam aborsi, yaitu aborsi spontan dimana aborsi terjadi secara alami tanpa intervensi tindakan medis, dan aborsi yang direncanakan dimana melalui tindakan medis dengan obat-obatan saja atau tindakan bedah, atau tindakan lain yang menyebabkan pendarahan lewat vagina.

    Aborsi adalah kaitannya dengan Hak Asasi Manusia. Pengertian HAM menurut Pasal 1 (1) UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

    1. b. Pembahasan

    Istilah aborsi sudah tidak asing lagi bagi kita. Aborsi dilakukan oleh seorang wanita hamil, baik yang sudah menikah maupun belum. Banyak alasan mengapa wanita hamil melakukan aborsi. Di antara alasan tersebut adalah karena tidak ingin memiliki anak, tidak memiliki cukup uang untuk merawat, atau karena tidak ingin memiliki anak tanpa ayah. Alasan yang lain, seperti usia yang masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak. Data studi dari Aida Torres dan Jacqueline Sarroch Forrest (1998)  menunjukkan bahwa 93 % kasus aborsi dilakukan karena alasan-alasan yang sifatnya untuk kepentingan pribadi, seperti yang disebutkan sebelumnya. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengkualifikasikan perbuatan aborsi tanpa alasan medis (provokatus kriminalis) sebagai kejahatan terhadap nyawa. Agar dapat membahas secara detail dan cermat mengenai aborsi provokatus kriminalis, perlu diketahui bagaimana konstruksi hukum yang berakitan dengan tindakan aborsi sebagai kejahatan yang ditentukan dalam KUHP. Pasal 346 : “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.” Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
    Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun . (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

    Berdasarkan keempat pasal tersebut diatas maka berarti bahwa apapun alasannya diluar alasan medis perempuan tidak boleh melakukan tindakan aborsi. Dengan kata lain paradigms yang digunakan adalah paradigma yang mengedepankan hak anak (pro life). Oleh karena itu dalam KUHP tindakan aborsi dikualifikasikan sebagai kejahatan terhadap nyawa. Adapun yang dapat dikenai sanksi pidana berkaitan dengan perbuatan aborsi adalah perempuan yang menggugurkan kandungannya itu sendiri dan juga mereka yang terlibat dalam proses terjadinya aborsi seperti dokter, bidan atau juru obat. Persoalannya adalah bagaimana ketentuan-ketentuan tersebut dapat ditegakkan dengan baik sehingga dapat menjerakan dan meminimalisasikan para peliku kejahatan aborsi tersebut. Karena pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak kasus aborsi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Mereka yang melakukan tindak aborsi berkeyakinan bahwa ketika kandungan baru berumur tiga atau empat minggu belum terdapat kehidupan pada enbrio. Jadi, menggugurkan kandunggan ketika usia kandungan masih muda itu tidak melanggar HAM, karena mereka tidak membunuh. Padahal, kalau kita lihat masalah ini dari sudut pandang medis, pada saat umur kandungan 3 minggu, zigot hasil pembuahan sudah mulai menempel pada endometrium (dinding uterus). Kemudian minggu-minggu selanjutnya sudah terjadi proses pembentukan organ-organ dan struktur anatomi lainnya.

    Di Indonesia, aborsi dilarang karena dianggap melanggar hak asasi manusia, yaitu hak untuk hidup. Tindakan aborsi ini dianggap sama dengan pembunuhan. Mengapa? Dalam ilmu biologi, disebutkan bahwa embrio terbentuk karena ada pertemuan sel sperma dan sel telur. Sel sperma yang melebur dengan sel telur akan membentuk zigot. Sel zigot kemudian membelah menjadi morula, morula menjadi blastula, dan kemudian menjadi gastrula. Gastrula ini yang kemudian berkembang menjadi embrio. Lalu, kehidupan janin itu mulai dari mana? Sebenarnya, sel sperma dan sel telur itu sendiri merupakan sel hidup, sehingga mulai dari awal pembuahan pun, sudah dapat dikatakan ada kehidupan.

    Hak-hak yang diatur dalam UU no 39 tahun 1999 adalah hak untuk hidup, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri, hak memperoleh

    keadilan, hak atas kebebasan pribadi, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak wanita, dan hak anak. Hak untuk hidup pasal 14 mencantumkan larangan pembunuhan. Aborsi adalah pembunuhan, itu artinya aborsi dilarang. Bahkan perbuatan aborsi dikategorikan sebagai tindak pidana sehingga kepada pelaku dan orang yang membantu melakukannya dikenai hukuman.

    Dalam pandangan agama pun, aborsi adalah tindakan yang dilarang. Agama

    islam, misalnya, dalam salah satu firman Allah: Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Aborsi yang disengaja termasuk ”membunuh yang di haramkan oleh Allah”. Qur’an surat Albaqarah ayat 183 menerangkan bagaimana proses penciptaan manusia. Proses yang dijelaskan di sini sama dengan penjelasan ilmiah dari dunia kedokteran. Jadi, menggugurkan kandungan dilarang dalam agama Islam. Dalam ajaran Kristen pun, tidak jauh berbeda. Gereja melarang tindakan aborsi karena ajaran gereja meyakini embrio adalah manusia seutuhnya.

    Meskipun alasan mengapa aborsi dilarang sudah jelas, namun bagi mereka yang “berkepentingan” melakukan tindak aborsi tetap mempunyai dalih. Bukankah menggugurkan kandungan itu hak bagi individu yang mempunyai kandungan? Kalau ada larangan, berarti larangan itu yang melanggar HAM. Mari kita lihat, batasan HAM menurut Undang-Undang. Pasal 28J (1) menyebutkan bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pasal 28J (2) disebutkan: Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan Undang-Undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Jadi, meskipun kita punya hak untuk menggugurkan kandungan, kita juga dibatasi oleh hak janin untuk hidup. Pasal 28A menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Karena telah dijelaskan tadi bahwa embrio atau janin adalah manusia juga, maka mereka juga mempunyai hak untuk hidup.

    1. c. Kesimpulan

    Secara ilmiah dan menurut ajaran agama, embrio ataupun janin adalah makhluk hidup yang mempunyai kehidupan. Jadi, menggugurkan kandungan berarti pembunuhan. Hukum di Indonesia pun secara tegas menyatakan larangan terhadaap tindakan aborsi. Tentunya, aborsi yang di maksud di sini adalah aborsi yang tanpa alasan medis. Jika seorang perempuan tidak mampu mempertahankan kehamilannya karena adanya vonis dari dokter terhadap kcschatan dan keselamatan nyawanya ataupun bayinya, secara hukum Indonesia dibenarkan dan mendapat perlindungan hukum sebagaimana telah diatur dalain pasal 15 ayat (1) dan (2) UndangUndang Keschatan Nomor 23 Tahun 1992.

    DAFTAR PUSTAKA

    Anonim, 2007. Aborsi di Indonesia. http://www. Kesrepro.info/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2008. Pro Kontra Aborsi di Indonesia. http://www. Kontarget.wordpress.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2009. IDI Minta DPR Susun Undang-Undang Aborsi. http://www.Vhr.media.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2010. Konsep hak Asasi Manusia dalam UU No 39 Tahun 1999. http://www.kadnet.info/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2010. Proses Kehamilan dan Perkembangan Janin dalam Kandungan. http://www.sweetpearls.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2010. Tinjauan Hukum Mengenai Aborsi dan Akibatnya. http://putracenter.net/2010/11/24/tinjauan-hukum-mengenai-aborsi-dan-akibatnya/. Diakses Kamis, 13 Oktober 2011.

    Anonim, 2011a. Hukum dan Aborsi. http://www. Aborsi.org/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2011b. Statistik Aborsi. http://www.aborsi.org/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Anonim, 2011. Putaran Debra Haffner: Para Agama Alasan Mengapa Aborsi Apakah sebuah Keputusan Moral. http://www. Canadaimmigrationblog.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Armiwulan, Hesti. 2009. Aborsi Ditinjau Dari Perseptif Hukum. http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/1903317-aborsi-ditinjau-dari-perseptif-hukum/. Diakses Kamis, 13 Oktober 2011.

    Nina. 2011. Pengertian aborsi. http://www.ninanilna.blogspot.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Nugroho, Stevan Adhi. 2008. Makalah Aborsi untuk Pelajar SMA dan Mahasiswa. http://www.stevan777.wordpress.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Valentino. 2011. Aborsi dan Pergaulan Bebas Remaja yang Mengkhawatirkan. http://www.m.kompasiana.com/. Diakses Rabu, 12 Oktober 2011.

    Posted by murtini.tini @ 3:10 am

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

calendar

October 2011
M T W T F S S
    Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
 
WP_Modern_Notepad